Minggu, 29 Juli 2012

HINGGA KAU LELAH MENANGIS

Pagi hari datang menjemput sepertiga malam. Terlihat seorang wanita membereskan make-up untuk bergegas melawan dunia. Dunia yang di mana dia harus berjalan sendiri menghidupi bayi mungil yang kini menjadi tempat satu-satunya menumpahkan bahagia dan deritanya.

Segalanya berjalan dengan baik, tapi lain halnya jika tiba-tiba rekaman alam berputar di dalam otaknya. Ya, rekaman alam yang memutarkan kisah cintanya yang terdalam. Bersama lelaki yang sangat ia cinta, yang gagal menjadi teman hidupnya. Kisah mereka usai karena lelaki yang ia dambakan tak segera menjadikannya istri yang sah, sedangkan Ibunya sangat ingin melihat anaknya segera menikah dikarenakan Sang Ibu telah divonis akan meninggal dalam waktu dekat karena mengidap kanker otak.
Selang seminggu ia putus dengan lelaki idamannya. Dia menikah dengan lelaki yang tak terlalu ia kenal karena lelaki itu adalah pilihan Ibunya. Hal ini semata-mata hanya ingin memenuhi permintaan Ibunya.
Di hari ketiga pernikahannya, takdir pahit menimpanya. Sang Ibu melepaskan nafas terakhir dengan tenang. Dan sejak saat itu iapun tak memiliki siapa-siapa lagi, selain sang suami.

Pernikahannya berjalan dengan tenang, hingga ia hamil. Naasnya, saat sedang bermanja-manja dengan bayi dalam kandungannya, sang suami membuka topengnya. Suaminya adalah lelaki yang temperamental dan tidak jarang suka 'main tangan'.  Berkali-kali ia salah sedikit, maka tangan suamipun melayang. Walaupun kondisi ia saat itu sedang hamil. Rumah tanggapun tak berjalan dengan baik, terutama setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang suami sedang bermain dengan wanita lain dalam keadaan mabuk. Dan itu terjadi saat usia kandungannya jalan 9 bulan.

Setelah melahirkan, ia memutuskan untuk mengakhiri usia pernikahannya karena ia merasa sudah tidak mampu lagi bertahan menjalaninya.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan berselang ia menikmati kehidupan baru yang damai dengan bayinya. Hingga suatu hari ia merasa amat penat akan aktivitasnya, pikiran iapun melayang dan jatuh tepat pada lelaki yang ia idam-idamkan dulu.

"Dia.. Di mana dia sekarang? Siapa sekarang yang menjadi kisah cintanya??" ucap ia sambil meneteskan air mata.

 

Kemudian iapun mencoba menghubungi nomer ponsel lelaki tersebut. Beruntungnya ia, nomer ponsel lelaki tersebut masih aktif. Namun sayangnya, lelaki tersebut telah memiliki kisah cinta yang lain dan berkata;
  

"Aku terlalu sakit, kau tak merasakan pilunya kehidupanku saat itu. Pergilah lagi dengan yang lain. Dengan siapapun yang kau tak pernah mendambakannya."


Sekejap setelah suara sambungan dari ponsel mati, air matanya deras berlinang hingga ia merasa lelah untuk menangis dan sadar bahwa ia tak bisa meneruskan kisah cintanya dengan seseorang yang terdalam di hatinya.
 

 "Dan lagu Peterpan yang berjudul Sally Sendiri ini yang bisa mewakilkan perasaannya saat ini."



The End


Minggu, 22 Juli 2012

TERANG

Dua hingga empat lilin telah meredup,
Dan sebentar lagi gelap.
Baiknya ku tiup sendiri,
Dan memindahkan sisa pembakarannya keluar rumah.

Hari mulai terang,
Satu langkah, alur nadapun berubah.
Tidak ada satupun yang dapat menekan,
Apalagi menghentikan.

Ribuan lilin habis pun takkan menggelapkan,
Entahlah, aku merasa angkuh pada kepedihan.

Gelap atau terang bukan seutuhnya garis kehidupan.
Dan penentuannya ada hati dan pikiran.

Yakinlah
Kepedihan yang hadir itu bukan untuk ditemani,
Bukan untuk dinikmati,
Bukan untuk mengisi ruang dihati.

Ciptakan kebahagiaan sendiri dibawah izin-Nya.

BAPAK

Bapak,
Coba lihat sebentar lebih dalam anakmu ini.
Memang kita berjauhan,
Tapi apakah pernah, bapak melihatku dengan tulus dan dari hati,
Membaca melalui mata hati saat kita dekat dalam jarak?
Atau sekedar menoleh pada gerak-gerikku, walaupun dalam beberapa menit itu sangat berarti bagiku pak.
Apa aku terlihat membohongi bapak?
Apa bapak pernah melihat aku secara benar-benar pada kedalaman dasar jiwa bapak??

Bagaimana bisa perkataan orang yang (mungkin) jauh,
Mempengaruhi pikiran dan pandangan bapak kepadaku?
Bagaimana bisa bapak lebih mempercayai mereka ketimbang anakmu sendiri?
Apa yang telah bapak dapat dari mereka?
Apa pak? Apaaa??

Sesaat setelah ku mengalami moment buruk di duniaku, aku tidak memberitakan padamu. Bukan karena apa-apa. Bukan aku tak menganggap bapak. Tak ada sama sekali pikiran kesitu.
Aku hanya tak ingin bapak mengkhawatirkan anakmu disini. Dan aku dapat pastikan aku baik2 saja. Dan akan pulang menemuimu dengan keadaan sehat meskipun ada perubahan sedikit di wajahku.

Tapi apa yang kudapat?
Memang manusia berbeda.
Tapi aku tak menginginkan bapak yang berbeda dari yang ku kenal.

Apa karena ada angin yg membawa berita yang (mungkin) dibesar-besarkan?
Atau mereka membuat cerita seolah aku buruk dihadapanmu?
Dan bapak mempercayainya?

Pak, jujur anakmu kecewa.
Kau lebih percaya org lain daripada anakmu ini.
Memang aku tak lebih dari seorang anak yang belum bisa membuat bapak tersenyum lebih.
Tak lebih dari anak nakal kebanyakan.
 Tak lebih dari seorang anak yang sedang berusaha membenahi diri untuk bisa hidup mandiri dan rapi selama 5 thn kebelakang.
Pak, anakmu masih tau batasan.
Anakmu masih bisa memahami pelajaran moral dan hati dari apa yang kudapat setelah aku jauh dari bapak.

Pak,
Apa aku harus membencimu hanya karena sebuah persoalan seperti ini?
Apa aku harus tak menemuimu lagi?
Atau harus cari tau siapa yg membawa berita dan menanamkan dendam kepadanya?
Aku sudah tak dapat berbicara apa-apa tentang ini.

Satu hal pak pesan dari anakmu.
Pak, tolong. Jangan buat anakmu ini membenci dunia, membenci apa-apa yg telah kau tanamkan dulu, membenci bapak dan semua yang berkaitan dengan ini, dan membenci apapun yang tercipta didepan mataku.

:'(

TIDAK SEPERTI KEMARIN

Sebenarnya...
Tidak ingin berduka hati
Hanya saja air mata saya ingin berkata, dan berbicara
Entah apa, lihatlah dengan kejujuran.

Setelah kau beranjak meninggalkan langit senja,
Jejakmu senyap tak meninggalkan bahasa,
Walaupun berbentuk.
Dan bentuknya yang selalu mengingatkan bahwa kemarin itu mimpi, dan inilah saat ini.

Saat harus tertatih mencari selimut jiwa yang setidaknya menyamaimu dan mengganti ketidakadaanmu.

Kabut pagi yang tak lagi bersahabat,
Yang sekarang bisa menusuk tulang....
Tidak seperti kemarin.

Langit yang memerahpun tak dapat lagi menjemput lepas tawaku,
Dia hanya memberikan kecemasan yang tak berujung...
Tidak seperti kemarin....

Jika kau beranggapan, mudahnya melupakanmu.
Itulah kesalahan terbesar dalam otakmu.

Asal kau ingat!!

Disini semua tidak seperti kemarin.

BERDOALAH

Kembali berhias demi warna
Menyatu dan menuju roda pembawa
Berdoalah,
Yakinlah, sebelum diyakinkan

Langit telah berubah warna
Setidaknya, kita masih akan terus mengertinya
Bersama menemani asa,
Yang sedang dalam masa pertumbuhan

Jika suatu saat roda membawa kita ke arah gelap,
Langit hanya mengguyur hujan pada kepala yang panas,
Warna-warni memudar sedikit demi sedikit,
Dan pertumbuhan asa perlahan layu,

Berdoalah kembali,
Agar kita masih bisa saling memeluk,
Menerima dalam resah,
Dan mengingatkan untuk saling menari kembali.

Jumat, 07 Oktober 2011

KESAMARAN BINTANG

Malam ini dingin yah, terus gelap lagi.
Bintang juga pada nggak ada.
Tapi ada si Bulan tuh :)
*berlari dan berada tepat dibawah bulan* 

Aku : "Bulan, boleh nggak gue nanya???" 
Bulan : Bulan seakan mengangguk (gak tau cuma khayalan gue doang)
Aku : "Si Bintang kemana?? Koq nggak keliatan??" 
Bulan : ******* (terdiam)
Aku : "Yahh, malah diemm!! "BINTANG KEMANAAA?????" 
Bulan : *********************** (tetap diam)
Aku : "Uhh, Bulan sombong!! Ntar nggak gue temenin lagi lo." 
Bulan : ****** (masih jg diam) tapi wajahnya menunjukkan mimik sedih (gak tau gue yang sok tau B-)) 
Aku : "Koq km sedih sih? Ada masalah yah sama malam-malammu??" 
Bulan : *dengan mimik marah* 

"BANYAK NANYA AMAT SICHH!! SI BINTANG TUH ADA.. CUMA GUE SEDIH AJA, DIA NGGAK PERNAH MAU NUNJUKKIN KE ALAM KALO DIA TUH SELALU ADA BUAT GUE, MESKIPUN KADANG SAMAR. TAPI DIA TUH SELALU ADA!!!" 
Aku : "Ohhhhhh.. (Sekalinya ngomong malah marah-marah)
Hihii.. Bulan galak ihh..
*berlari menjauh dan kembali ke tempat lelahku*

WAKTU

Waktu menunjukkan jam 01:36. Akhh, persetan dengan waktu. 
Jam berapapun kalau gak bisa ya gak bisa, kalaupun bisa pasti... tetep aja gak bisa (re : kepaksa).

Ehhh!!! 

Jam bekker, jam dinding, jam tangan, jam kaki, jam terbang dan jam apalaah semua. Bisa gak lo pada berhenti bentar aja!! 
Ada yang mau gue omongin nich"
Atau mau pada gue cabut aja baterainya??"

Gue gak peduli waktu yang sebenarnya berjalan. Yang penting jam didepan mata gue ini berhenti berputar.

Seenggaknya kan bisa ngeredain rasa geli~sah gue, gundah gula
jawana, atau galau tingkat anak SMP kelas 2 yang kadang gue rasain!!"

Ondewey, aniwey, basweyy, kembali ke yang mau gue omongin yak.

Kenapa sih tiap gue susah, sedih, kecewa, terasing dan ngerasa gak bahagia
(tingkat dewasa) lo selalu ngasih pertambahan waktu yang lamanya lebih dari dua babak kalo gue lg maen futsal?!!!"

Dan pas gue lagi senang, suka cita, gembira dan benar benar ngerasa bahagia sedunia, lo malahan mempersempit waktu kayak bel pas istirahat sekolah sd??!!

Kenapa?


"KENAPAAA???!!!!!" 


Gue tunggu jawabannya yah!!
#NB : gue selalu gagal mertahanin apa2 yg bisa bikin gue hidup, senyum lebar, dan tenteram.